Langkah kaki kuhentakkan Melintasi jalan yang membentang Perjalanan yang panjang Tak pernah kuhiraukan Hutan,sungai,sawah,gunung,dan bukit Adalah rintangganku Waktu demi waktu kulewati Demi mencapai cita citaku Air mata dipipi,keringgat di badan Adalah tanda penggorgananku

Thursday, August 18, 2016

Teknik Mendaki Gunung yang Baik

Teknik Mendaki Gunung yang Baik,- Sisi Positif Kegiatan Alam Bebas yang selama ini banyak di ragukan oleh beberapa kalangan. Bahkan sering kita mendengar sebuah untaian kalimat: Untuk apa naik gunung jika nanti turun juga? Bagi orang awam, mendaki gunung, mengarungi arus deras, menyelusup dalam gelapnya goa, memanjat tebing memang dipandang sebagai suatu kegiatan yang sia – sia.



Terlepas dari pecinta alam, organisasi, himpunan, Sispala, Mapala, ataupun komunitas dan tanpa mengurangi hormat kepada mereka yang telah disebutkan sebelumnya. Mendaki gunung itu seharusnya tanpa misi. Karena mendaki gunung itu untuk mencari kebebasan. Untuk melepaskan rasa egois terbang bersama angin. Dan mendaki gunung itu sebenarnya bukan tentang mencapai puncak. Tapi tentang menjalin persaudaraan dan saling mengerti. Mendaki gunung itu bukan tentang mebuang – buang waktu. Tapi tentang menyusun bagaimana cara terbaik membunuh waktu. Mendaki gunung itu bukan tentang mendapat panggilan si gagah. Tapi tentang mencari cara membunuh rasa takut.

Jadi, mendaki gunung itu adalah tentang kebebasan.

Berita duka datang silih berganti. Banyak rekan – rekan pendaki mengalami musibah maut dalam kegiatan alam bebas ini. Orang mungkin bisa saja mengatakan itu adalah ‘takdir’. Ya…itu memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi manusia juga ikut menentukan takdirnya sendiri. Adakah yang salah?

Bila kita perhatikan gejala para pendaki lokal ( memang tidak semuanya) , mereka melakukan pendakian lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian atau bisa dibilang nekat. Padahal dalam melakukan pendakian banyak hal yang perlu diperhatikan. Itulah mengapa ada yang dinamakan Manajemen Perjalanan / Pendakian.

Segala sesuatunya harus diatur dan dianalisa. Walupun kita hanya melakukan pendakian biasa bukan sebuah expedisi. Namun Manajemen Perjalanan harus tetap diterapkan. Bahkan hal – hal kecilpun harus dipikirkan. Bila saja para pendaki memahami dasar – dasar manajemen perjalanan, maka akan semakin meminimalkal musibah dan korban kegiatan alam bebas ini.

Baca Juga : Obat Pengental Sperma

Kebanyakan korban yang jatuh akibat bahaya subjektif ( dari diri sendiri ) . Ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang Manajemen Perjalanan dan teknik hidup di alam bebas. Dan satu hal yang juga penting adalah menjaga ahlak kita, bagaimana kita bersikap terhadap alam, karena kadang faktor ‘X’ pun bisa menjadi sebabnya.

Perlengkapan Jalan ( untuk medan gunung hutan )


1. Sepatu Mempunyai kegunaan sesuai dengan kebutuhan perjalanan.

1. Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
2. Harus kuat untuk pemakaian yang berat
3. Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu
4. Melindungi telapak kaki sampai mata kaki
5. Kulit tebal, tidak mudah sobek
6. Lunak bagian dalam, masih memberikan ruang bagi gerak kaki
7. Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki ( tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang, yang bagian depan sepatu sangat keras karena dilapisi dengan besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu )
8. Bentuk sol bawahnya harus dapat menggigit tanah ke segala arah dan cukup kuat.
9. Ada lubang ventilasi, yang bersekat halus sehingga air dan udara lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.

2. Kaus Kaki

Yang perlu diperhatikan :
menyerap keringat Gunanya :
– Melindungi kulit kaki dari pergesekan dengan kulit sepatu.
– Menjaga agar kulit kita tetap dapat bernafas.
– Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah yang dingin.

3. Celana Jalan

– Yang perlu diperhatikan :
– Kuat, lembut
– Ringan
– Tidak mengganggu gerakan kaki, jahitannya cukup longgar
– Praktis
– Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
– Mudah kering, bila basah tidak menambah berat
– Bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering.

4. Baju Jalan

Yang perlu diperhatikan :
– Melindungi tubuh dari kondisi seikitar
– Kuat
– Ringan
– Tidak mengganggu pergerakan
– Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
– Praktis
– Mudah kering

5. Topi Lapangan

Yang perlu diperhatikan :
– Melindungi kepala dari kemungkinan akibat duri
– Melindungi kepala dari hujan, terutama kepala bagian belakang.
– Harus kuat dan tidak mudah robek, untuk medan gunung hutan dianjurkan memakai topi rimba atau semacam topi Jepang.

6. Sarung Lapangan

Yang perlu diperhatikan :
* Sebaiknya terbuat dari kulit
* Bentuknya sesuai dengan tangan kita
* Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan.

7. Ikat Pinggang

Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tetapi teguh. Selain menjaga agar celana tidak kendur, juga untuk meletakan alat – alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat – alat P3K, dll.

8. Ransel / Carrier

– Ringan, Sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan, terbuat dari bahan yang water proof.
– Kuat, harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dsb.
– Nyaman dipakai, dianjurkan agar memakai ransel yang mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Selain itu juga membuat kenyamanan karena adanya ventilasi antara tubuh / punggung dengan ransel.
– Praktis, kantung – kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan untuk mengambil barang – barang tertentu.

9. Peralatan navigasi

– Kompas, peta, penggaris segitiga, busur derajat, pensil, dll.

10. Lampu Senter

Dengan bola lampu dan baterai cadangan

11. Peluit

12. Pisau

* Pisau saku serbaguna ( multi blade ) seperti Victorinox
* Pisau pinggang
* Golok tebas

 Peralatan Tidur

* Satu set pakaian tidur
* Kaus kaki untuk tidur
* Sleeping bag
* Matras
* Tenda / ponco / flysheet untuk bivak

Perlengkapan Masak dan Makan

* Alat – alat makan
* Alat pembuat api ( lilin, spirtus, dll )
* Kantung air / tempat air

Menyusun Perlengkapan Kedalam Ransel / carrier ( Packing )

1. Nyaman, efisien, selain secara langsung ditentukan oleh desain ransel, juga banyak dipengaruhi cara menyusun barang ( packing ) kedalam ransel.
2. Tempatkanlah barang – barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan. Barang – barang yang relatif lebih ringan ( sleeping bag, pakaian tidur ) ditempatkan dibagian bawah.
3. Letakkan barang yang sewaktu – waktu diperlukan diletakkan dibagian atas atau diletakkan dikantung – kantung luar ransel ( ponco, P3K, kamera, dll ).
4. Kelompokan barang – barang dan masukkan kedalam kantung – kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur / cadangan, pakaian dalam, buku – buku, dll.

Perencanaan Perbekalan

Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
2. Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
3. Keadaaan medan yang akan dihadapi ( terjal, sering hujan, dsb )


Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah

Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat – syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah – langkah berikut :

1. Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.

2.  Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung masing – masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).

3. Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.

Perlengkapan Perorangan :

1. Carrier / Ransel
2. Matras
3. Rain coat / ponco
4. Sleeping Bag
5. Perlengkapan makan & minun
6. Baju hangat / jaket + baju ganti ( cadangan)
7. Sepatu gunung + kaos kaki cadangan
8. Senter ( Baterai + bohlam cadangan )
9. Kupluk + topi rimba, sarung tangan
10. Obat – obatan pribadi
11. Kompas, webbing, tali
12. Logistik
13. Lilin
14. Pisau serba – guna / Victorinox

Perlengkapan Team :

1. Tenda
2. Peralatan masak
3. P3K
4. Trash Bag
5. Golok Tebas

Sering kita mendengar dan menemui sekelompok manusia yang suka berpetualang di alam terbuka dengan membawa nama Pecinta Alam. Dan uniknya, nama tersebut, yakni pecinta alam hanya ditemui di Indonesia. Bukan dari segi bahasa, namun dari segi arti dan makna kalimat. Di Luar negeri sendiri mungkin lebih dikenal dengan nama Aktifis Lingkungan.

Konsep Pecinta Alam dicetuskan oleh Soe Hok Gie pada tahun 1964. Gie sendiri meninggal pada tahun 1969 karena menghirup gas beracun Gunung Semeru. Gerakan “Pecinta Alam” awalnya adalah pergerakan perlawanan yang murni kultur kebebasan sipil atas invasi militer dengan doktrin militerisme – patriotik. Perlawanan ini dilakukan dengan mengambil cara berpetualang dengan alasannya yakni :

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi ( kemunafikan ) dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” ( Soe Hok Gie – Catatan Seorang Demonstran )

Era pecinta alam sesudah meninggalnya Soe Hok Gie ditandai dengan adanya ekspedisi besar – besaran, dan era berikutnya ditandai dengan Era 1969 – 1974, merupakan era antara masa kematian Gie dan masa muncul munculnya Kode Etik Pecinta Alam .

Era ini menandai munculnya tatanan baru dalam dunia kepecinta – alaman, dengan diisahkannya Kode Etik Pecinta Alam ( KEPAI ) di Gladian IV Ujungpandang, 24 Januari 1974. Ketika itu di barat juga sudah mengenal suatu ‘Etika Lingkungan Hidup Universal‘ yang disepakati pada 1972. Era ini menandakan adanya suatu babak monumental dalam aktivitas kepecintaalaman Indonesia dan perhatian pada lingkungan hidup di negara – negara industri. Lima tahun setelah kematian Gie, telah memunculkan suatu kesadaran untuk menjadikan Pecinta Alam sebagai aktivitas yang teo – filosofis, beretika, cerdas, manusiawi / humanis, pro – ekologis, patriotisme dan anti – rasial.


Dalam Etika ‘Etika Lingkungan Hidup Universal‘ Ada 3 etika yang merupakan prinsip dasar dalam kegiatan petualangan yaitu :

Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill noting but time.

Dalam Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, disebutkan :

– Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

– Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

PRINSIP DASAR PETUALANGAN DAN PECINTA ALAM

1. Dalam pelaksanaan kegiatan petualangan terdapat etika dan prinsip dasar yang sudah disepakati bersama. Etika dan prinsip dasar tersebut muncul sebagai rasa tanggung jawab kepada alam. Selain didukung dengan perlengkapan dan peralatan yang memadai, juga dalam petualangan mutlak diperlukan kemampuan yang mencukupi. Kemampuan itu adalah kemampuan teknis yang yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan. Sebagai contoh, pendaki harus memahami ritme berjalan saat melakukan pendakian, menjaga keseimbangan pada medan yang curam dan terjal sambil membawa beban yang berat serta memahami kelebihan dan kekurangan dari perlengkapan dan peralatan yang dibawa serta paham cara penggunaannya.

2. Kemampuan kebugaran yang mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam. Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini menyangkut pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi / kemauan, percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.

3. Seorang pendaki seharusnya dapat memahami keadaan dirinya secara fisik dan mental sehingga ia dapat melakukan kontrol diri selama melakukan pendakian, apalagi jika dilakukan dalam suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri sebagai anggota kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.

4. Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap iklim dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus memahami pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh dirinya terhadap kondisi lingkungan yang ia datangi.

Keempat aspek kemampuan tersebut harus dimiliki seorang pendaki sebelum ia melakukan pendakian. Sebab yang akan dihadapi adalah tidak hanya sebuah pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari dekat, tetapi juga sebuah resiko yang amat tinggi, sebuah bahaya yang dapat mengancam keselamatannya.

Sering kita mendengar atau membaca tentang tewasnya pendaki saat pendakian gunung. Tetapi, kejadian – kejadian tersebut tidak menyurutkan niat pendaki profesional dan sejati untuk terus melakukan kegiatan ini. Tantangan untuk mencapai keinginannya menggapai puncak tertinggi tidak membuat nyali bergetar takut serta tidak memikirkan resiko apabila gagal.

Teknik Mendaki Gunung yang Baik

Teknik Mendaki Gunung yang Baik Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aceng Arrozaq

0 comments:

Post a Comment